Masa kecil memang masa penuh kebahagiaan, ceria dan canda tawa. kata pak Mario Teguh yang selalu baik hatinya dan super jiwanya, “Masa Kesentosaan Batin”. Yap, Berkaitan dengan masa kecil saya, ada satu pecahan mozaik masa kecil saya yang ingin kuceritakan. Apa itu? Hmm, haruskah ku katakan padamu disini? (tiba-tiba suara halus terdengar :HARUS!)

Baiklah. Hal yang ingin kuceritakan itu adalah terereeennggggggg…. Kartu Pokemon dari permen (lupa nama permennya). Yah, dulu waktu SD, sekitar tahun 1998-2000, anak-anak di kota saya terjangkit wabah Collectorus pokemonalis, atau koleksi kartu stiker pokemon. Permennya bentuk lollypop, ada serbuknya berasa cola, lemon dan lupa. Kalo gak salah harganya dulu Rp1000. Cukup mahal sih emang untuk jaman itu. Tapi demi hobi dan prestise anak-anak jaman itu, mau tidak mau ya harus dibeli juga. Tidak jarang uang jajan para siswa di SDku habis buat beli permen itu. Hehe, Hobbi memang tidak mengenal kondisi dompet (atau mungkin anak-anaknya saja yang bego waktu kecil. Termasuk… saya.)

Koleksiku dulu hampir 300-an lembar. Tapi semuanya raib dicuri anak tetanggaku. Dapat ditebak apa yang imran cilik lakukan saat itu. Yah, saya menangis sejadi-jadinya, meraung sekeras-kerasnya. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. 3 hari lamanya saya mengurung diri di dalam kamar. Trauma psikis (ceileh).

Setelah itu, jadi malas lagi koleksi kartu pokemon. Atau dengan kata lain, setelah itu, akhirnya saya berangsur-angsur sembuh dari wabah Collectorus pokemonalis. Dan setelah itu pula, dendam saya kepada anak tetanggaku bermula dan akan tetap abadi selamanya.