Ada yang berkesan di 24 februari 2010 ini. Tentang sebuah buku kumpulan cerpen pemenang lomba tingkat mahasiswa se-Indonesia berjudul BUKAN PEREMPUAN.
Saat membuka amplop kiriman dari pak pos itu, ada euphoria yang menggelayuti hatiku. Bagaimana tidak, buku yang berada di tanganku sangat jauh berbeda dengan buku antologi pemenang lomba ROHTO. Banyak perbedaannya, terlampau jauh malah. Dan itulah yang membuatku sampai merasa bangga mendekap buku berjudul BUKAN PEREMPUAN itu.
Dulu, saat membuka amplop kiriman buku kumcer dari ROHTO, saya mendadak ilfil melihat bukunya. Sangat dan sungguh tidak profesional! Gak sebanding dengan lombanya yang heboh. Asal tahu saja ya, bukunya tipis kayak biskuit Hatari, desainnya sederhana dan pas-pasan.
Pas buka isinya, dong-dong-dong, tulisannya kecil sekallleee (mentang-mentang sedang topnya konsep minimalis, eh tulisannya juga minimalis, na kira kapang saya penjual kaca pembesar). Belum lagi penempatan kalimat dan marjinnya yang amburadul dan super kacau. Masa marjin cerpen yang satu gak sama dengan yang lainnya. Sepertinya hanya sekedar dicopy paste tanpa editan. Bahkan parahnya nih ya, ada cerpen yang terpotong tiba-tiba. Pokoknya, sumpah, kacau luar biasa kacau!
Satu lagi yang membuat saya bermanyun-manyun saat membaca cerpenku di buku kumcer ROHTO. Keterangan istilah-istilah yang saya taruh di akhir cerita, berhasil dihilangkan dengan sukses oleh panitia. Gak tahu juga apa alasannya, padahal sisa lembaran kosongnya masih banyak. Saya yakin orang yang membacanya akan bertekuk lutut dengan kening berkerut karena bingung. Coz gak ada penjelasannya. Padahal sudah kutaruh di bawahnya keterangan. Ck,ck,ck, Betul-betul, buku itu berhasil membuatku dongkol coz gak seperti yang dibayangkan gitu loh mas (Tapi untung ji nakasih ka hadiahnya. Kalau tidak, wattttaaauuwww!!!)
Beda halnya dengan buku BUKAN PEREMPUAN kali ini. saya sangat surprize, kagum dan berterima kasih banyak kepada para panitia lomba dan penerbit OBSESI PRESS atas kehebatannya dalam menerbitkan buku.
Saat pertama membuka amplop kiriman, saya terkesima menatap 2 eksemplar buku kumcer pemenang lomba ini. bergetar rasanya hatiku, terharu! (cieeh). Bukunya sangat berkelas dan profesional. Memegang buku ini sama halnya dengan memegang buku Sang Pemimpinya Andrea Hirata. Desain sampul dan kertasnya juga berkelas. Dan tebalnya, wuih, 314 halaman. Tebal men! Saat membuka lembaran demi lembarannya, saya melihat kreatifitas layout yang cantik dan rapi aduhai. Saya berani mengatakan bahwa layoutnya lebih menarik dari buku Laskar pelangi.
Kemudian, Saat melihat sekilas, ternyata di setiap akhir cerpen dituliskan riwayat para penulisnya layaknya sebuah biografi para penulis terkenal dan profesional.
Apakah sampai disitu saja? Oh, itu masih tampilan kulitnya saja, boy! Kau tak tahu tentang isi cerpen-cerpen di dalamnya, bukan? Biar kuberi tahu. Saat kubuka lembaran demi lembaran dan kuresapi makna dari setiap lantunan kata cerpen-cerpen di dalamnya, saya terkesima bukan kepalang (benar, ini tidak mengada-ada.). saya serasa menemukan duniaku yang telah lama kucari. Dunia yang menyajikanku pada keindahan tiap-tiap syair sastra. Saya serasa berada dalam lautan diksi megah dan mengalir, dihiasi ungkapan-ungkapan baru yang menyihir. Belum lagi ceritanya, men! Beugh, tidak ada yang mampu menebak akhir dari cerita mereka. Kreatif, saaangat kreatif! Jangan kau katakan cerpen-cerpen di dalamnya seperti cerpen garing pada umumnya membosankan atau seperti cerpen teenlit lainnya yang menggunakan kata, “gue-gue, elo-elo!”. Ooh, no-no. Kau salah besar. Tak ada kata-kata seperti itu. Yang ada justru narasi berdiksi indah dan alur cerita bercita rasa tinggi. Saya bahkan berani menjamin, bahwa cerpen yang menang di Rohto gak ada apa-apanya dengan cerpen dalam buku ini. novel-novel cinta islami yang lagi maraknya, jadi terasa garing. Apalagi yang judulnya pake cinta-cintaan. Beugh, lewat!
Bukan hanya itu saja. Akhir ceritanya yang kadang membuat degup jantung berdetak hebat, kadang tragis, kadang so sweet tapi kadang pula membuat air mata ini ingin menguap di pelupuk mata. Cerita-ceritanya tak dapat ditebak. Kau semakin penasaran? Baiklah. Akan kutuliskan kepadamu penggalan dari cerpen-cerpen itu.
Dalam cerpen berjudul Mata Purnama, “Akhirnya aku temukan dia, setelah sekian waktu petualanganku mencari jejak kembali, demi mengurai kisah klasik yang pernah tercipta, dari serakan-serakan puisi usang dan bersimbah noktah merah darah. Serupa daun-daun mahoni yang menjadi saksi kebisuanku kini, menanti prosa dan cerita baru yang akan terukir dalam bentang zaman.”.
Atau dalam cerpen berjudul Blang Pidie, 1887, “Di sini gelap, Zainab. Gagak nampak berisik mengintai dari ranting-ranting yang semalaman menutupkan telinga. Lewat mata gagak yang mengendusi amis dara dari luka perih ini, ingin kusampaikan rasa rinduku yang dalam padamu, rindu mencuri pandang pada matamu yang bening menerbitkan matahariku sendiri dengan kecipak ikan-ikan kecil, dengan suara dingin air di celah-celah bebatuan seperti masa kanak dahulu, seperti jatuh cinta kita yang pertama.”
Atau yang lain dalam cerpen berjudul Nur, “Nur… kau tak perlu susah payah menasihatiku untuk menghapus ragam warna dalam perjalanan kita. Kau juga tak perlu resah dengan jalan hidup yang kulalui kelak. Karena memang tak perlu kau melakukan itu semua. Sandiwara telah usai. Kelir telah digulung. Kisah-kisah telah sampai di akhir episode….” Hahaha, itu baru secuil dari buku ini, kawan. Kau akan lebih terlonjak, adrenalinmu meledak dan air matamu menyeruak setelah membaca keseluruhan 30 cerpen di dalamnya.
Aah, entah apa lagi yang harus saya katakan. Saya hanya merasa cerpen-cerpen saya selama ini ternyata tak berarti apa-apa. Tapi dalam hati ada sedikit kebanggaan (ampuni hamba ya Allah), karena salah satu cerpenku berada di dalam buku ini, yang telah dinilai langsung oleh Joni Ariadinata (redaktur pelaksana majalah sastra Horison dan Jurnal Cerpen Indonesia). hehehe, Alhamdulillah!
Dari sini saya semakin sadar bahwa jalan cerpen ke depan semakin banyak persaingan saja. untuk itu, terbesit tekad dalam hati untuk semakin gigih berlatih, berkarya dan menorehkan jejak, tidak hanya di kampus atau di Makassar tetapi aku juga akan menjelajah belantara negeri dan menorehkan jejak-jejak tintaku disana. Bismillah!
Oh ya, Sekedar saran. Jika sulit mendapatkan inspirasi, ide brilian, sulit mendapatkan alur cerita tak tertebak atau sulit mendapatkan diksi cantik, bacalah antologi ini! apalagi seluruh cerpen dalam buku ini bernuansa islami berlatar dunia santri. terserah anda, menganggap ini promosi atau resensi, jelasnya saya hanya sekedar menyarankan. Sebab saya sendiri tiba-tiba mengalami euforia menulis lagi setelah membaca buku antologi ini. katanya sih banyak beredar di toko buku seluruh Indonesia. Tapi gak tau juga ya, kalau Makassar. Atau pesan saja di penerbitnya, Grafindo Litera Media. Di websitenya juga ada, http://stainpress.com . Gak bakalan rugi deh. Saya yakin, Insya Allah!
Akhirnya, semakin terpesona diriku akan kemahabesaranMu, Ya Allah. Atas segala nikmat tak terhitung. Alhamdulillahi rabbil alaamin!



44 tanggapan kepada “Buku Antologi Cerpen Teranyar Tahun Ini”
qia
Maret 1st, 2010 pukul 04:28
Boleh dipinjam gak???
hehe…
Aida Radar
Maret 1st, 2010 pukul 13:25
Ck…ck…ck…
Penggambaran antum ttng isi sang buku saja sudah buat z penasaran Bang Miun. Pengen bacaaaaa……
Pinjam dong???
Betulan! penasaran sekalika dengan diksi-diksinya. Baru baca sepenggal diksi yg antum tulis di sini saja sudah buat z terkagum-kagum. Bagaimana ya isinya?
Btw, mengenai “menjelajah belantara negeri dan menorehkan jejak-jejak tintaku disana”. Semoga cita-citamu tercapai bung! ^_^
imran
Maret 2nd, 2010 pukul 23:28
@ Qia: Insya Allah bisa ji. tapi blum slesai saya baca…
@ Aida:mengenai “menjelajah belantara negeri dan menorehkan jejak-jejak tintaku disana”, sy pikir itu adlah cita2 qt bersama… sy doakan smoga ukhti juga demikian ya… amin!
Asra
Maret 3rd, 2010 pukul 07:01
ihhh,,, beli??? Knya pinjammi saja deh… hehehe saya antrian ketga. boleh yah.. hehehe….
milito
Maret 3rd, 2010 pukul 08:32
sy yg jd org pertama pinjam nah… sori kawan2, hehehe. dlm wktu dkat sy bertandang ke gubukmu.sediakan mami kopi pahit.ok bro!!
Aida Radar
Maret 3rd, 2010 pukul 10:05
Bang Miun : Ya ya ya…
mengenai “menjelajah belantara negeri dan menorehkan jejak-jejak tintaku disana”, Semoga cita2 bersama ini dirodhoi-Nya. Amin.
qia
Maret 4th, 2010 pukul 02:02
Eh milito… saya duluan yang pinjam…
jangan curang donk!!! hehe…..
saya yg pertama kali pinjam dii blog ini
wkwkwwk…
milito
Maret 4th, 2010 pukul 05:19
siapa duluan sentuh buku itu, dialah pemenangnya.
sy jd berpikr…
kra2 butu berapa lama membaca tarian2 diksi yang ada di buku itu ya?
Hmmm…kyknya lama…
Imran
Maret 4th, 2010 pukul 13:32
Eh,sory.Stlah mbca smw crpenX,trxta ada sktar 4-5 crpen yg tdk trlalu keren (trmasuk crpenQ,huhu).Tp lainX…Beugh, mantap.
Imran
Maret 4th, 2010 pukul 14:04
@Asra: mdedeh,prinsipX sabun colek, “hemat,irit&ekonomis.” tp,ora opo2lah..Qt kan teman..
@Iton: kpn qt trkhr ktmu di?lama jg qt tdk bersua ya.
Baiklah,Q tggu kw di istanaQ,ank muda!(ssst,bwako kopi jg nah,hbis kopiku.)
@Aida: amin,bu Aida!;-)
@Qia: suit mq’ sama iton,sypa yg mnang!
milito lagi
Maret 5th, 2010 pukul 07:40
SBUAH DRAMA U/ IMRAN :
” HNYA UTK PRIA…BUKAN PEREMPUAN ”
moderator :” bersuuuuuiiittt !!!! ”
milito ; ” ha… ku blgji apa. sy yg menang to…
hore !!! hore !!!! yeah….”
Qia : ” @###$$%%%%…. ”
moderator : tawwa..menangki, subhanallah !!!
( dan milito pun melenggang ke gubuk imran mmbwa kemenangan yang sungguh-sungguh mencengangan. mereka-reka, seperti apakah kehebatan buku ‘BUKAN PEREMPUAN” ituuu….)
El Zukhrufy
Maret 11th, 2010 pukul 13:06
KASI Liatmi bukunya…
buktikan dong!
siapa tahu cuma khayalan jie..
(kayaknya,ada yang siap2 marah ini…)
PIZZZ!!
Imran
Maret 11th, 2010 pukul 15:21
Siapa yang marah,SIAPA…SIAPA???
(sambl siul2, pura2 tdk tau)
yg jelas ada bukuX sy simpan dgn seksama,..
Btw,kpda semuanya, ganti nomor ka’ nah.
085244295323
Hilal
Maret 12th, 2010 pukul 15:08
Salam. sayang sekali kau tak datang saat penganugerahan kawan. padahal, kita bisa bercengkerama dengan nominator lain dari berbagai daerah. mereka sangat hebat, dan membuat siapapun iri. apakah kau juga telah membca cerpen ‘sepotong cinta di sudut senja’ yang kutulis di buku itu.
Imran
Maret 13th, 2010 pukul 23:53
Tentu kawan,tentu!Kisah cnta 2 insan santri yg trxta mmendam rasa yg sama,nmun trpaksa berai krna slah mengira..
TampakX kisah ini diangkat dari pengalaman pribadi ya?& siapakah malaikat senja yg kau maksudkan itu?
Ah,andai saja PR3 Unhas mengizinkan sy pergi, tentu sy dpt saling brtukar pikiran dgn antum dan teman2 penulis dari Jawa&Sumatra itu.
emma^^
Maret 15th, 2010 pukul 14:50
hohohohoo…sy belum baca…. >,<
imran
Maret 19th, 2010 pukul 09:37
kasian ta’ itu, emma!!!
QIa
Maret 23rd, 2010 pukul 16:57
Manami bukunya kah? jgn2 fiktif ji…!!
hehe….
milito
Maret 25th, 2010 pukul 06:52
( PEMANASAN I )
imran…setelah saya baca tertatih dan setengah pulih,
kaca mata kualitatif dan intuisi kuantitatif ku mgatakan, yang pantas juara sebenarnya adalah antara ” kisah purnama” dan ” benggel ”
BUKAN PEREMPUAN ceritax gmpang ketebak, meskipun sempat menipu di awal2. sedangkn kedua cerita itu, diksinya benar2 bikin iri. Blang Pidie baru sj ku lahap dan blum selesai. tapi blum apa2 justru telah mengingatkanku pada klompok mujahidin di aceh sana yang masih terus di buru oleh gerombolan keparat tentara setan densus 88.
sekian laporan dari saya !
el zukhrufy (not elvi sukaesih)
Maret 26th, 2010 pukul 06:57
kasi ma’ bukunya….
kelamaan diperdebatkan disini,, bikin jengkel saja (hohoho..!)
eh, ternyata sepupumu itu tetangga kamarku.. dia dari Toraja. katanya, udah lama nggak ketemu…
sambung lagi silaturahminya, kawan!
imran
Maret 26th, 2010 pukul 14:39
@iton: trma ksih rekan Iton,yg mlaporkan langsung dr TKP. Sy jstru menjagokn Blang Pidie sbgy juara..
imran
Maret 26th, 2010 pukul 14:54
@eLzukh: masa? K’Tia toh? Iya,sy spupu 1x dgn dia. Cm smpy saat ini blum prnah ktmu sdkitpun. Tp psti nnti ketemulah. Bgmn kbrX k’Tia? SalamQ nah.
Aida Radar
Maret 27th, 2010 pukul 11:10
Mauka jg baca… >_<
penasaranka dengan penjelasannya Milito… (salam kenal Milito…^_^)…
El Zukhrufy
Maret 28th, 2010 pukul 12:08
yup! Kak Tia… ada adiknya jg: Bulan..
sudahmi kusampaikan salamnya…
Insyaallah, bukan pasti… kita nda tau sampai kapan kita hidup, bukan??
semoga kalian bisa bersua, kawan!
imran
Maret 29th, 2010 pukul 13:10
@aida: nnti kpn2 Q pnjamknq’..
@elZukh: iya bu ustajah..insyaAllah.
milito
April 2nd, 2010 pukul 14:18
(PEMANASAN II)
- Ah…lupa sy judul cerpen ini (mgkin krn sy lupa mmbwa kumcer itu wktu mau memposting comen ini) -
Inilah kisa dua anak manusia yang terkena panah cupid lesatan titah dewi amor. pesantren menjadi saksi dua hati yang sama merindu namun harus mengalah oleh batas-batas yang memang belum dihalalkan. katika harta dan tahta seolah menjadi penghalang atas berseminya cerita cinta, dan puluhan surat tak berbalas terpampang kaku di hadapan seorang tua, maka batu nisan menjad bukti sejarah yang menorehkan penyesalan tak berhingga….
sang ayah telah menuai sebuah badai yang dulu turut di kobarkannya !
imran mgkin tau judul cerita ni? kang hilal mungkin mau ikut membantu??? ato kawan2 yang lain ada yang tau????
sekian laporan dari saya !
El Zukhrufy
April 3rd, 2010 pukul 13:54
Milito:
Aha! saya tahu judulnya: TIDAK TAHU..!!
Haha! gak lucu yaaa…..
imran
April 4th, 2010 pukul 05:46
@iton:brgetar hatiQ mbca diksi itu..aQ thu rangkaian kata itu..tp sy tdk mw kasi tw kw…btw,barusanQ ktmu Arsyam td mlm..
imran
April 4th, 2010 pukul 05:52
eLZukh:Lucu ji twwa..(trpaksa)
btw,shoutmix blogta tdk bs trlihat lwat hp…
Misteri Hitam
April 5th, 2010 pukul 12:01
tuh kan, terpaksa jie… hmm…
yup! bijeng jg itu… padahal, mau ka sering2 koment jg di blog ku lewat HP.. hiks!
eh, kapan bisa dipinjam bukunya???
Senja Biru
April 8th, 2010 pukul 18:07
Subhanallah… kaya’nya saya org yg paling terlambat koment… hehe
Mwka juga baca bukunya Imran…
Barakallahu akhiy…
imran
April 10th, 2010 pukul 01:07
itumi masalahX.bukuX itu sdh lama sama bpak Iton…yg mau pinjam,minta sndri mq sm dia…sy sdh mengikhlaskan kmana kelak buku itu akan brmuara…
Uswatun Hassanah M.S.
April 17th, 2010 pukul 11:32
untuk Iton padeng: hei! bagi2 dulu bukunya…
Uswatun Hasanah M.S.
April 17th, 2010 pukul 15:45
eh, kunjungi alamatku yang lain: http://www.semesta-hitam.blogspot.com
emma^^
April 22nd, 2010 pukul 13:56
lho??knp masih ini postingannya??
post yg baru lagiiiii…!! hehehe
Moh. Ghufron Cholid
Mei 5th, 2010 pukul 06:28
Selamat yach atas terbit bukunya…………..terus berkarya sahabatku……
imran
Mei 6th, 2010 pukul 02:23
Emma:iy, tunggu mi postinganku. tpi blenk ka bla, tidak tw hal apa yg mau diangkat. yg lucu atau yg serius?
All: berhubung bukunya sudah ada sama sy, nanti yg mau pinjam, hubungi mka. nanti ta’pinjemin…
Mas Gufron: jazakallah, puisi2X antum juga dahsyat… banyak memberi masukan..
novi pasti bisa
Mei 6th, 2010 pukul 08:40
Mantap…..
Ternyata itu toh bukunya,,.
idham Malik
Mei 19th, 2010 pukul 23:55
Salam.. saya sangat bangga punya senior seperti dinda.. mantap.. jangan patah arang untuk mengejar cita-cita.. orang timur pasti bisa untuk melangit, seperti pram, seno, ataupun remy.. sukses for yuu..
idham Malik
Mei 19th, 2010 pukul 23:55
ehh. sori, junior maksudnya..
Imran
Mei 20th, 2010 pukul 05:08
suatu kehormatan tersendiri bgi saya mendapatkan apresiasi dari seorang kanda senior yang sangat saya banggakan…seorang penulis tenar, pemikir brilian dan handal, seorang teman diskusi yang sangat cerdas dan mumpuni…
Ya, dialah Kak Idham Malik, mantan Pemimpin Redaksi Koran Identitas Unhas…
kapan2 kita mesti berdiskusi lagi Kak…
Ajak2 sy menulis proyek UNICEF ta’…hehehe
Emma
Juli 2nd, 2010 pukul 13:28
yg sesuai dengan suasana hati saat berada di depan layar laptop/komp lah….apa yg terlintas tuliiiiiisssssssssss! hehehee
Demo, Imran san ni makaseru yo…
khontol
Maret 8th, 2011 pukul 13:05
…
raka
Februari 6th, 2012 pukul 09:50
ass ww, saya berminat untuk membeli cerpen “bukan perempuan”, bagaimana caranya, berapa harganya, mohon info ke e-mail saya : raka@pusri.co.id
wass
raka