Banyak orang dan manusia serta insan yang selalu mempertanyakan bagaimana sih caranya menulis, menghasilkan ide yang baik, agar tidak mentok, mandeg, tidak blenk di tengah penulisan atau agar tulisan kita termuat di media. Pertanyaan seperti itu memang sebuah hal yang lumrah dan wajar. Bahkan sangat wajar. Tapiiii….
pertanyaan seperti itu sudah ekspired dan telah ditarik peredarannya dalam dunia kesusastraan kita. Sebab tidak ada satu pun pakar sastra yang mengetahui dengan pasti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Karena, yang mengetahui jawaban tentang permasalahan kita dalam menulis adalah diri kita sendiri.
Dalam hal ini saya hanya memberikan sedikit ulasan atau tips yang, yaaaah biasa lah! Tapi moga saja bisa menginspirasi dan jadi bahan renungan para pembaca sekalian.
Pertama, (jreng… jreng, jreng, jreng!) pertanyaan mengenai bagaimana sih cara menulis yang baik? Sebenarnya gampang, sangat guampang malah! Saya kira sejak kita SD sampai SMA, kita selalu diajari cara menulis yang baik. Bukankah ibu guru kita selalu bilang bahwa menulis yang baik itu adalah dengan menggunakan tangan! Jadi jangan menulis menggunakan kaki, mulut, leher atau mata!! sebab selain tidak keren, juga bahaya, bisa menghantarkan seseorang ke jurang kebinasaan. (@#$^%^*$&)
Kedua. Pertanyaan tentang bagaimana sih caranya mendapatkan ide yang brilian? Gampang! Ide itu di mana saja. Bisa dari peristiwa ataupun hal-hal terdekat kita. Coba catat benda-benda yang ada di sekitar kita. Misalnya pulpen, komputer, jam, buku, kasur, galon, piring dll. Nah, terus rangkaikan satu sama lain menjadi sebuah kalimat. Contohnya gini.
Aku sendirian menekur di kamar. Hawa gigil menapak letihku. Pulpen yang tergeletak dalam diam, komputer yang mendengarkan lagu senyap, jam dinding konstan berdentang, buku-buku tergeletak di lantai. Sedangkan aku sendiri terkapar di kasur, merenungi galon dan piringku yang hilang dibobol maling tadi siang…. tuh kan, jadi satu paragraf! Sebenarnya ide itu gampang, tinggal kitanya saja yang jarang mencoba. Coba deh!(Btw, malingnya kurang kerjaan amat ya, masa nyolong galon dan piring)
Ketiga. Pertanyaan mengenai “Bagaimana agar tidak mentok saat menulis?” caranya mudah! Caranya, jangan menulis sambil jalan di gang buntu, pasti kagak bakalan mentok dah!
Sory, tadi becanda. Sekarang masuk sesi serius. Mmm, menurut pengalaman mbah nih ya. Ternyata, orang yang selalu mentok saat menulis itu karena dia terlalu over protective terhadap tulisan yang akan dibuat. Dikit-dikit takut salah kata. Dikit-dikit takut salah peletakan diksi. Sehingga dia terus terjebak ke dalam aktifitas “tulis, lihat, jelek, hapus, tulis lagi, lihat lagi, jelek lagi, hapus lagi!”
Jadi jalan keluarnya bagaimana? Jalan keluarnya adalah jangan sekali-kali melihat tulisan yang sudah ditulis sebelumnya. Apalagi kalau membacanya dari awal kembali. Beugh, itu sangat mematikan ide-ide kita. Kalo mau menulis, tulis saja apapun yang ada di benak. Nyambung atau kagak, itu soal belakangan. Yang jelas intinya, tulis dan teruuuuus menulis. Jangan pernah stop! (Kecuali kalo lampu merahnya udah menyala!)
kalo ceritanya sudah selesai, baru deh dibaca kembali dan memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada. Sempurnakan dan lengkapi kata-kata yang kurang. Tambahkan diksi-diksi yang baik. Pokok’e permak kembali setelah selesai. Bahasa kerennya, Sunting!
Nah kalo itu sudah dilakukan, pasti kita dapat membuat cerpen dengan baik, cepat, mudah, murah, meriah, dan tentunya, sesuai dengan selera anda! (Loh, jadi kayak iklan warung tegal)
Saya juga pake metode “Tulis Terus Pantang Mundur” ini. Hasilnya, wooow………. JELEK! (gak kok, bagus!)
Keempat. Ini dia nih pertanyaan paling eksis, fenomenal, paling menentukan dan paling sering keluar di ujian! “Bagaimana sih caranya agar tulisan kita termuat di media atau bisa menang lomba?”
Ya, seperti yang kita ketahui bersama (ih, kapan?), bahwa berkompetisi memang tidak semudah yang dibayangkan. Mmm, sebenarnya saya tidak mempunyai wewenang apapun dalam menjawab pertanyaan ini, karena saya pun masih dalam tahap pembelajaran. Tapi, itung-itung bagi-bagi pengalaman, akhirnya ditulis juga deh.
Kunci utama dalam mengirimkan tulisan adalah tulisan terbaik. Jangan yang asal-asalan. Jangan sampai belum ada judulnya, marjin (garis tepinya) masih kurang rapi, huruf yang tidak lengkap, pemakaian tanda baca tidak benar, pokoknya banyaklah. Upayakan saat menyetor cerpen kita, kita harus sesempurna mungkin.
Oh ya, judulnya juga mesti diperhatikan. Buatlah judul yang ketika dibaca memberikan efek penasaran. Jauhkan cerpen kita dari judul-judul berbau seperti ini, “Pergi ke Perpustakaan, Kucingku Pussy yang Manis, Berlibur ke Rumah Nenek, de el el!” sebab baru baca judulnya saja orang jadi hilang mood, hilang nafsu makan hingga hilang kesadaran!
Eh, eh, satu lagi. Upayakan kalimat-kalimat yang kita gunakan pada awal dan akhir cerita menggunakan diksi yang bagus dan sastra abiz. Sebab… psstt, sekedar bocoran, editor atau tim juri lomba itu, hanya membaca paragraf awal dan akhir dari cerpen-cerpen kita. Tidak mungkin juri membaca cerpen yang ratusan banyaknya. So, untuk menghemat waktu, digunakanlah cara seperti ini. Ini penting untuk diperhatikan, untuk memberikan kesan yang baik pada seleksi tingkat awalnya. Gitu loh mas!
Kalo itu semua sudah dilalui, tinggal kirim deh. (Cuma sampai sini doank?)
Beluumm!! Masih ada syarat yg harus dilakukan setelah kita menyelesaikan semua di atas.
Syaratnya…. (sambil dilagukan pake nada Tombo Ati ya!)
Nulis itu, ada lima perkaranya. Yang pertama, Bertawakkal pada Allah ta’ala semata. Yang kedua, Sholat hajat dua rakaat dirikanlah.
Yang ketiga, jangan banyak berharap, apalagi berharap cerpen itu bakal termuat atau menang lomba. Harapan kita satu-satunya hanyalah ridho Allah. Kalo Allah sudah ridho, apalagi yang mesti dicari. Bukankah itu tujuan utama kita? dimuat tidak dimuat hati tetap enjoy. Tidak gampang kecewa. dan tentunya semangat menulis kita tidak tergoyahkan. (Kenapa saya jadi kayak Aa Gym gini ya? Betul tidak?)
Yang keempat. Banyak doa. Dan yang kelima, lebih giatlah lagi berlatih menciptakan cerpen yang berdiksi manis dan renyah (Seperti krupuk pisang!). Banyaklah membaca tulisan-tulisan pemenang lomba. Pelajari penggunaan kata-kata dan idenya. Saya yakin kalo ente-ente, para pembaca yang budiman menerapkan cara yang demikian, maka anda akan merasakan perubahan dalam waktu satu minggu saja. Ya’, satu minggu saja! Hahaha, Hebat bukan? Maka cobalah, dan rasakan manfaatnya. Pesan sekarang juga! Buruan, jangan sampai kehabisan! Datangi departement store terdekat di kota anda. Hanya….sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah! (Loh, kok jadi kayak iklan pelangsing tubuh di tipi-tipi?)
Udah ah, jadi ngawur! Intinya, banyak latihan, itu aja! Sudah dulu ya, bentar-bentar, kalo punya masalah menulis lagi, kita diskusikan bersama dalam komentar di bawah ini. Oce!
Subhanallah wabihamdihi subhanakallahumma wabihamdika asyhaduanlaa ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaihi….
Wassalamu alaikum wr wb.