Kartu Stiker Pokemon

Masa kecil memang masa penuh kebahagiaan, ceria dan canda tawa. kata pak Mario Teguh yang selalu baik hatinya dan super jiwanya, “Masa Kesentosaan Batin”. Yap, Berkaitan dengan masa kecil saya, ada satu pecahan mozaik masa kecil saya yang ingin kuceritakan. Apa itu? Hmm, haruskah ku katakan padamu disini? (tiba-tiba suara halus terdengar :HARUS!)

Baiklah. Hal yang ingin kuceritakan itu adalah terereeennggggggg…. Kartu Pokemon dari permen (lupa nama permennya). Yah, dulu waktu SD, sekitar tahun 1998-2000, anak-anak di kota saya terjangkit wabah Collectorus pokemonalis, atau koleksi kartu stiker pokemon. Permennya bentuk lollypop, ada serbuknya berasa cola, lemon dan lupa. Kalo gak salah harganya dulu Rp1000. Cukup mahal sih emang untuk jaman itu. Tapi demi hobi dan prestise anak-anak jaman itu, mau tidak mau ya harus dibeli juga. Tidak jarang uang jajan para siswa di SDku habis buat beli permen itu. Hehe, Hobbi memang tidak mengenal kondisi dompet (atau mungkin anak-anaknya saja yang bego waktu kecil. Termasuk… saya.)

Koleksiku dulu hampir 300-an lembar. Tapi semuanya raib dicuri anak tetanggaku. Dapat ditebak apa yang imran cilik lakukan saat itu. Yah, saya menangis sejadi-jadinya, meraung sekeras-kerasnya. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. 3 hari lamanya saya mengurung diri di dalam kamar. Trauma psikis (ceileh).

Setelah itu, jadi malas lagi koleksi kartu pokemon. Atau dengan kata lain, setelah itu, akhirnya saya berangsur-angsur sembuh dari wabah Collectorus pokemonalis. Meskipun demikian, dendam saya kepada anak tetanggaku akan tetap abadi selamanya.

The Unyu’ Moment with Blog

Gue: blogku sayang.

Blog: (cuek. berpaling. menatap langit. galau!)

Gue: blogku saayaaangg…

Blog: (tetap diam. manyun.)

Gue: kamu marah ya ama aku?

Blog: ih, nggak tuh! (menatap gue, sinis. mulutnya bengkok-bengkok kayak pemeran antagonis)

Gue: Aku nyesel, bebh. Nyesel.

Blog: Lo nyesel kenapa? (makin sinis)

Gue: gue nyesel saat melihat arsip postinganmu bebh. desember 2010 lalu lompat yang tinggi ke oktober 2011.

Blog: puas kamu ninggalin aku?!! (mulai mewek, air matanya bergulir)

Gue: izinkan aku menghapus air matamu, sayang.

Blog: PUAS KAMU NINGGALIN AKU, hahhh?!!! (Mukul-mukul dada gue, unyu’ banget!)

Gue: (terdiam)

Blog: Jawab, Imran. jawab!!!

Gue: (diam)

Blog: Jawab!!!

Gue: lebaynya ini eeee, na bentak-bentakka’. (batin gue dalam hati)

Blog: Jawabbb!!!

Gue: Iyoowww, PUASKA’. Puas sekali! alhamdulillah yah, sudah 10 bulan kutinggalkan. Sesuatu banget.

—————————————————————-

(maka semakin jauhlah hubungan gue dan blog gue.)

Kumcer racikan sendiri

Tanpa bermaksud apa-apa, hanya sekedar ingin berbagi saja. (KLIK saja GAMBARnya untuk FILE ANTOLOGI CERPEN)

Setiap kali saya melihat lomba sastra cerpen skala nasional, atau koran-koran nasional, rasa-rasanya ada sedikit keirihatian saya kepada penulis-penulis dari Sumatera dan Jawa. Tulisan mereka begitu intens menjuarai dan memenangkan lomba. Tidak hanya itu, koran-koran skala nasional selalu memuat tulisan-tulisan mereka, para penulis muda berbakat itu.

Tiba-tiba saya berpikir, kok masih sedikit ya penulis-penulis dari Sulawesi. padahal saya tahu begitu banyak teman-teman yang memiliki bakat dan kemampuan menulis yang luar biasa, terutama teman-teman saya yang di Makassar.  Ya, berawal dari keprihatinan saya atas dominansi penulis-penulis muda dari Sumatera dan Jawa itulah, yang membuat saya berpikir, mungkin sudah saatnya penulis-penulis muda dari kawasan Timur Indonesia, khususnya Penulis Muda Makassar, untuk bangkit. Kita bisa menengok para “pendahulu” kita, lalu belajar dari mereka. seperti Gegge Mappangewa, Lily Yulianti Farid, Dul Abdul Rahman, Yanuardi Syukur, de el el. Dengan kita yang saling mendukung dan memotivasi, insyaALLAH kita akan mampu seperti sahabat-sahabat penulis yang dari Sumatera dan Jawa. Jangan mudah putus asa. tulisan yang ditolak, atau tidak termuat, atau tidak menang lomba, saya rasa itu hal yang biasa. Kalah itu justru kalo kita putus asa dan gak punya semangat lagi dalam menulis. (maaf, sok menggurui. TAPI INI BENAAARRRR, you know!!!)

semoga file kumcer pdf saya ini, bisa dijadikan sedikit referensi bagi kita untuk ikut mewarnai kanca sastra Indonesia. Sebenarnya, kumcer ini saya buat sendiri, secara abal-abal, atau ongol-ongol. seolah-olah buku antologi beneran. padahal tidak bagus-bagus amat. tapi………. ya sudahlah, tidak perlu dibahas. jelek ya jelek!

Oke, begitu saja dulu yah. bagi yang berminat, Silakan cekidot DOWNLOAD disini gan. jangan lupa sundul dan Quote ya. (ala-ala Kas-kus). hehehe

Menatapmu, blogku!

Telah hampir seabad aku meninggalkanmu (lebay), blogku. ada rindu dan kenangan yang tertimbun bila menatapmu kembali. tentang segala masa lalu kita, tentang segala suka duka kita, tentang sahabat-sahabat penulis yang melukiskan langit-langit sejarah kita, tentang segala ekstasi dan keinginan kita pada sebuah eksistensi. menatapmu, aku seolah kembali kepada romantisme masa semester 1 – 5, semester yang penuh keingintahuan, mencoba, memahami, menghayati hidup, berorganisasi, belajar menemukan maksud hidup dan segalanya.

dan kini, aku telah pulang ke rumah menulisku. aku datang kembali kepadamu, blogku sayang. aku datang dengan membawa beras dan sebongkah berlian. karena aku bukanlah Bang Toyib. aku Bang Mi’un. # ‘eeaaaaaaa

???

Tes…sathuhhhh…tess…sathuh duaaahh…

 

(wah, ternyata rumah inspirasiku ini masih bagus, setelah 5 bulan ditinggalkan!)

Hati-Hati Main Facebook, Tetap Jaga Kehormatan

Ketika perpecahan keluarga menjadi TONTONAN YANG DITUNGGU dalam sebuah episode infotainment setiap hari. Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa.

Ketika seorang celebritis DENGAN BANGGA menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasei yang ditunggu-tunggu “siapa calon bapak si jabang bayi ?” Ada kabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang celebrities yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.

Wuiih……mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik. Wuiiih……ternyata SEKARANG BUKAN HANYA ARTIS yang bisa seperti itu, SADAR atau TIDAK, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya apapun diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon maaf ….’DILECEHKAN’ orang, dan HERAN-NYA perasaan yang didapat adalah ‘KESENANGAN’…???

Fenomena itu bernama FACEBOOK, setiap saat para facebooker meng update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook : Seorang wanita menuliskan : “Hujan-hujan malam2 sendirian, enaknya ngapain ya…..?” Kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan, “mau ditemanin ? Dijamin puas deh…” Seorang wanita lainnya menuliskan : “Bangun tidur, badan sakit semua, biasa….habis malam jumat ya begini…” Kemudian komen2 nakal bermunculan…

Ada yang menulis, “bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi….”, Kemudian komen2 pelecehan bermunculan Ada pula yang komen di wall temannya, “eeeh ini si anu ya…, yg dulu dekat dengan si itu khan? Aduuh dicariin tuh sama si itu….” Lupa klu si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya: “habis minum jamu nih…., ada yang mau menerima tantangan ?” Langsung berpuluh2 komen datang..

Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit…” Dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan. Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru sj di upload di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah raga memakai kaos dan celana pendek…..padahal sebagian besar yg didalam foto tersebut sudah berjilbab.

Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria…. Ada pula seorang pria meng-upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.

Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah…., yaitu Muhammad, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah : “Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Istri tercinta, sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab “Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini.” Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah Rasulullah….

Ingatlah Abdurahman bin Auf mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya, Maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya.

Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda: “Malu itu sebahagian dari iman.” (Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.

Dan Rasulullah menegaskan dengan sindiran keras kepada kita, “Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari). Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat.

Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah, hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat. Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu, mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat Iffah kita luntur tak berbekas.

Jazakallah khair

Sumber : FTJAI

Puisi BJ Habibie kepada istrinya

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,

cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,

calon bidadari surgaku …

Pesan untuk yang punya blog

Deeeeeeehhhh, blognya siapa mi ini kodooong???

JELLEEEEKNYA! tidak ada bagus-bagusnya….

halloow, ada orangnya gak nih???

Kenapa sunyi sekali. tidak ada tulisan yang ter-update???

KE HONGKONG MO DEH, Mi’un!!!!

Buku Antologi Cerpen Teranyar Tahun Ini

Ada yang berkesan di 24 februari 2010 ini. Tentang sebuah buku kumpulan cerpen pemenang lomba tingkat mahasiswa se-Indonesia berjudul BUKAN PEREMPUAN.

Saat membuka amplop kiriman dari pak pos itu, ada euphoria yang menggelayuti hatiku. Bagaimana tidak, buku yang berada di tanganku sangat jauh berbeda dengan buku antologi pemenang lomba ROHTO. Banyak perbedaannya, terlampau jauh malah. Dan itulah yang membuatku sampai merasa bangga mendekap buku berjudul BUKAN PEREMPUAN itu.

Dulu, saat membuka amplop kiriman buku kumcer dari ROHTO, saya mendadak ilfil melihat bukunya. Sangat dan sungguh tidak profesional! Gak sebanding dengan lombanya yang heboh. Asal tahu saja ya, bukunya tipis kayak biskuit Hatari, desainnya sederhana dan pas-pasan.

Pas buka isinya, dong-dong-dong, tulisannya kecil sekallleee (mentang-mentang sedang topnya konsep minimalis, eh tulisannya juga minimalis, na kira kapang saya penjual kaca pembesar). Belum lagi penempatan kalimat dan marjinnya yang amburadul dan super kacau. Masa marjin cerpen yang satu gak sama dengan yang lainnya. Sepertinya hanya sekedar dicopy paste tanpa editan. Bahkan parahnya nih ya, ada cerpen yang terpotong tiba-tiba. Pokoknya, sumpah, kacau luar biasa kacau!

Satu lagi yang membuat saya bermanyun-manyun saat membaca cerpenku di buku kumcer ROHTO. Keterangan istilah-istilah yang saya taruh di akhir cerita, berhasil dihilangkan dengan sukses oleh panitia. Gak tahu juga apa alasannya, padahal sisa lembaran kosongnya masih banyak. Saya yakin orang yang membacanya akan bertekuk lutut dengan kening berkerut karena bingung. Coz gak ada penjelasannya. Padahal sudah kutaruh di bawahnya keterangan. Ck,ck,ck, Betul-betul, buku itu berhasil membuatku dongkol coz gak seperti yang dibayangkan gitu loh mas (Tapi untung ji nakasih ka hadiahnya. Kalau tidak, wattttaaauuwww!!!)

Beda halnya dengan buku BUKAN PEREMPUAN kali ini. saya sangat surprize, kagum dan berterima kasih banyak kepada para panitia lomba dan penerbit OBSESI PRESS atas kehebatannya dalam menerbitkan buku.

Saat pertama membuka amplop kiriman, saya terkesima menatap 2 eksemplar buku kumcer pemenang lomba ini. bergetar rasanya hatiku, terharu! (cieeh). Bukunya sangat berkelas dan profesional. Memegang buku ini sama halnya dengan memegang buku Sang Pemimpinya Andrea Hirata. Desain sampul dan kertasnya juga berkelas. Dan tebalnya, wuih, 314 halaman. Tebal men! Saat membuka lembaran demi lembarannya, saya melihat kreatifitas layout yang cantik dan rapi aduhai. Saya berani mengatakan bahwa layoutnya lebih menarik dari buku Laskar pelangi.

Kemudian, Saat melihat sekilas, ternyata di setiap akhir cerpen dituliskan riwayat para penulisnya layaknya sebuah biografi para penulis terkenal dan profesional.

Apakah sampai disitu saja? Oh, itu masih tampilan kulitnya saja, boy! Kau tak tahu tentang isi cerpen-cerpen di dalamnya, bukan? Biar kuberi tahu. Saat kubuka lembaran demi lembaran dan kuresapi makna dari setiap lantunan kata cerpen-cerpen di dalamnya, saya terkesima bukan kepalang (benar, ini tidak mengada-ada.). saya serasa menemukan duniaku yang telah lama kucari. Dunia yang menyajikanku pada keindahan tiap-tiap syair sastra. Saya serasa berada dalam lautan diksi megah dan mengalir, dihiasi ungkapan-ungkapan baru yang menyihir. Belum lagi ceritanya, men! Beugh, tidak ada yang mampu menebak akhir dari cerita mereka. Kreatif, saaangat kreatif! Jangan kau katakan cerpen-cerpen di dalamnya seperti cerpen garing pada umumnya membosankan atau seperti cerpen teenlit lainnya yang menggunakan kata, “gue-gue, elo-elo!”. Ooh, no-no. Kau salah besar. Tak ada kata-kata seperti itu. Yang ada justru narasi berdiksi indah dan alur cerita bercita rasa tinggi. Saya bahkan berani menjamin, bahwa cerpen yang menang di Rohto gak ada apa-apanya dengan cerpen dalam buku ini. novel-novel cinta islami yang lagi maraknya, jadi terasa garing. Apalagi yang judulnya pake cinta-cintaan. Beugh, lewat!

Bukan hanya itu saja. Akhir ceritanya yang kadang membuat degup jantung berdetak hebat, kadang tragis, kadang so sweet tapi kadang pula membuat air mata ini ingin menguap di pelupuk mata. Cerita-ceritanya tak dapat ditebak. Kau semakin penasaran? Baiklah. Akan kutuliskan kepadamu penggalan dari cerpen-cerpen itu.

Dalam cerpen berjudul Mata Purnama, “Akhirnya aku temukan dia, setelah sekian waktu petualanganku mencari jejak kembali, demi mengurai kisah klasik yang pernah tercipta, dari serakan-serakan puisi usang dan bersimbah noktah merah darah. Serupa daun-daun mahoni yang menjadi saksi kebisuanku kini, menanti prosa dan cerita baru yang akan terukir dalam bentang zaman.”.

Atau dalam cerpen berjudul Blang Pidie, 1887, “Di sini gelap, Zainab. Gagak nampak berisik mengintai dari ranting-ranting yang semalaman menutupkan telinga. Lewat mata gagak yang mengendusi amis dara dari luka perih ini, ingin kusampaikan rasa rinduku yang dalam padamu, rindu mencuri pandang pada matamu yang bening menerbitkan matahariku sendiri dengan kecipak ikan-ikan kecil, dengan suara dingin air di celah-celah bebatuan seperti masa kanak dahulu, seperti jatuh cinta kita yang pertama.”

Atau yang lain dalam cerpen berjudul Nur, “Nur… kau tak perlu susah payah menasihatiku untuk menghapus ragam warna dalam perjalanan kita. Kau juga tak perlu resah dengan jalan hidup yang kulalui kelak. Karena memang tak perlu kau melakukan itu semua. Sandiwara telah usai. Kelir telah digulung. Kisah-kisah telah sampai di akhir episode….” Hahaha, itu baru secuil dari buku ini, kawan. Kau akan lebih terlonjak, adrenalinmu meledak dan air matamu menyeruak setelah membaca keseluruhan 30 cerpen di dalamnya.

Aah, entah apa lagi yang harus saya katakan. Saya hanya merasa cerpen-cerpen saya selama ini ternyata tak berarti apa-apa. Tapi dalam hati ada sedikit kebanggaan (ampuni hamba ya Allah), karena salah satu cerpenku berada di dalam buku ini, yang telah dinilai langsung oleh Joni Ariadinata (redaktur pelaksana majalah sastra Horison dan Jurnal Cerpen Indonesia). hehehe, Alhamdulillah!

Dari sini saya semakin sadar bahwa jalan cerpen ke depan semakin banyak persaingan saja. untuk itu, terbesit tekad dalam hati untuk semakin gigih berlatih, berkarya dan menorehkan jejak, tidak hanya di kampus atau di Makassar tetapi aku juga akan menjelajah belantara negeri dan menorehkan jejak-jejak tintaku disana. Bismillah!

Oh ya, Sekedar saran. Jika sulit mendapatkan inspirasi, ide brilian, sulit mendapatkan alur cerita tak tertebak atau sulit mendapatkan diksi cantik, bacalah antologi ini! apalagi seluruh cerpen dalam buku ini bernuansa islami berlatar dunia santri. terserah anda, menganggap ini promosi atau resensi, jelasnya saya hanya sekedar menyarankan. Sebab saya sendiri tiba-tiba mengalami euforia menulis lagi setelah membaca buku antologi ini. katanya sih banyak beredar di toko buku seluruh Indonesia. Tapi gak tau juga ya, kalau Makassar. Atau pesan saja di penerbitnya, Grafindo Litera Media. Di websitenya juga ada, http://stainpress.com . Gak bakalan rugi deh. Saya yakin, Insya Allah!

Akhirnya, semakin terpesona diriku akan kemahabesaranMu, Ya Allah. Atas segala nikmat tak terhitung. Alhamdulillahi rabbil alaamin!

Cerita Singkat tentang Menulis

Banyak orang dan manusia serta insan yang selalu mempertanyakan bagaimana sih caranya menulis, menghasilkan ide yang baik, agar tidak mentok, mandeg, tidak blenk di tengah penulisan atau agar tulisan kita termuat di media. Pertanyaan seperti itu memang sebuah hal yang lumrah dan wajar. Bahkan sangat wajar. Tapiiii….

pertanyaan seperti itu sudah ekspired dan telah ditarik peredarannya dalam dunia kesusastraan kita. Sebab tidak ada satu pun pakar sastra yang mengetahui dengan pasti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Karena, yang mengetahui jawaban tentang permasalahan kita dalam menulis adalah diri kita sendiri.

Dalam hal ini saya hanya memberikan sedikit ulasan atau tips yang, yaaaah biasa lah! Tapi moga saja bisa menginspirasi dan jadi bahan renungan para pembaca sekalian.

Pertama, (jreng… jreng, jreng, jreng!) pertanyaan mengenai bagaimana sih cara menulis yang baik? Sebenarnya gampang, sangat guampang malah! Saya kira sejak kita SD sampai SMA, kita selalu diajari cara menulis yang baik. Bukankah ibu guru kita selalu bilang bahwa menulis yang baik itu adalah dengan menggunakan tangan! Jadi jangan menulis menggunakan kaki, mulut, leher atau mata!! sebab selain tidak keren, juga bahaya, bisa menghantarkan seseorang ke jurang kebinasaan. (@#$^%^*$&)

Kedua. Pertanyaan tentang bagaimana sih caranya mendapatkan ide yang brilian? Gampang! Ide itu di mana saja. Bisa dari peristiwa ataupun hal-hal terdekat kita. Coba catat benda-benda yang ada di sekitar kita. Misalnya pulpen, komputer, jam, buku, kasur, galon, piring dll. Nah, terus rangkaikan satu sama lain menjadi sebuah kalimat. Contohnya gini.

Aku sendirian menekur di kamar. Hawa gigil menapak letihku. Pulpen yang tergeletak dalam diam, komputer yang mendengarkan lagu senyap, jam dinding konstan berdentang, buku-buku tergeletak di lantai. Sedangkan aku sendiri terkapar di kasur, merenungi galon dan piringku yang hilang dibobol maling tadi siang…. tuh kan, jadi satu paragraf! Sebenarnya ide itu gampang, tinggal kitanya saja yang jarang mencoba. Coba deh!(Btw, malingnya kurang kerjaan amat ya, masa nyolong galon dan piring)

Ketiga. Pertanyaan mengenai “Bagaimana agar tidak mentok saat menulis?” caranya mudah! Caranya, jangan menulis sambil jalan di gang buntu, pasti kagak bakalan mentok dah!

Sory, tadi becanda. Sekarang masuk sesi serius. Mmm, menurut pengalaman mbah nih ya. Ternyata, orang yang selalu mentok saat menulis itu karena dia terlalu over protective terhadap tulisan yang akan dibuat. Dikit-dikit takut salah kata. Dikit-dikit takut salah peletakan diksi. Sehingga dia terus terjebak ke dalam aktifitas “tulis, lihat, jelek, hapus, tulis lagi, lihat lagi, jelek lagi, hapus lagi!”

Jadi jalan keluarnya bagaimana? Jalan keluarnya adalah jangan sekali-kali melihat tulisan yang sudah ditulis sebelumnya. Apalagi kalau membacanya dari awal kembali. Beugh, itu sangat mematikan ide-ide kita. Kalo mau menulis, tulis saja apapun yang ada di benak. Nyambung atau kagak, itu soal belakangan. Yang jelas intinya, tulis dan teruuuuus menulis. Jangan pernah stop! (Kecuali kalo lampu merahnya udah menyala!)

kalo ceritanya sudah selesai, baru deh dibaca kembali dan memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada. Sempurnakan dan lengkapi kata-kata yang kurang. Tambahkan diksi-diksi yang baik. Pokok’e permak kembali setelah selesai. Bahasa kerennya, Sunting!

Nah kalo itu sudah dilakukan, pasti kita dapat membuat cerpen dengan baik, cepat, mudah, murah, meriah, dan tentunya, sesuai dengan selera anda! (Loh, jadi kayak iklan warung tegal)

Saya juga pake metode “Tulis Terus Pantang Mundur” ini. Hasilnya, wooow………. JELEK! (gak kok, bagus!)

Keempat. Ini dia nih pertanyaan paling eksis, fenomenal, paling menentukan dan paling sering keluar di ujian! “Bagaimana sih caranya agar tulisan kita termuat di media atau bisa menang lomba?”

Ya, seperti yang kita ketahui bersama (ih, kapan?), bahwa berkompetisi memang tidak semudah yang dibayangkan. Mmm, sebenarnya saya tidak mempunyai wewenang apapun dalam menjawab pertanyaan ini, karena saya pun masih dalam tahap pembelajaran. Tapi, itung-itung bagi-bagi pengalaman, akhirnya ditulis juga deh.

Kunci utama dalam mengirimkan tulisan adalah tulisan terbaik. Jangan yang asal-asalan. Jangan sampai belum ada judulnya, marjin (garis tepinya) masih kurang rapi, huruf yang tidak lengkap, pemakaian tanda baca tidak benar, pokoknya banyaklah. Upayakan saat menyetor cerpen kita, kita harus sesempurna mungkin.

Oh ya, judulnya juga mesti diperhatikan. Buatlah judul yang ketika dibaca memberikan efek penasaran. Jauhkan cerpen kita dari judul-judul berbau seperti ini, “Pergi ke Perpustakaan, Kucingku Pussy yang Manis, Berlibur ke Rumah Nenek, de el el!” sebab baru baca judulnya saja orang jadi hilang mood, hilang nafsu makan hingga hilang kesadaran!

Eh, eh, satu lagi. Upayakan kalimat-kalimat yang kita gunakan pada awal dan akhir cerita menggunakan diksi yang bagus dan sastra abiz. Sebab… psstt,  sekedar bocoran, editor atau tim juri lomba itu, hanya membaca paragraf awal dan akhir dari cerpen-cerpen kita. Tidak mungkin juri membaca cerpen yang ratusan banyaknya. So, untuk menghemat waktu, digunakanlah cara seperti ini. Ini penting untuk diperhatikan, untuk memberikan kesan yang baik pada seleksi tingkat awalnya. Gitu loh mas!

Kalo itu semua sudah dilalui, tinggal kirim deh. (Cuma sampai sini doank?)

Beluumm!! Masih ada syarat yg harus dilakukan setelah kita menyelesaikan semua di atas.

Syaratnya…. (sambil dilagukan pake nada Tombo Ati ya!)

Nulis itu, ada lima perkaranya. Yang pertama, Bertawakkal pada Allah ta’ala semata. Yang kedua, Sholat hajat dua rakaat dirikanlah.

Yang ketiga, jangan banyak berharap, apalagi berharap cerpen itu bakal termuat atau menang lomba. Harapan kita satu-satunya hanyalah ridho Allah. Kalo Allah sudah ridho, apalagi yang mesti dicari. Bukankah itu tujuan utama kita? dimuat tidak dimuat hati tetap enjoy. Tidak gampang kecewa. dan tentunya semangat menulis kita tidak tergoyahkan. (Kenapa saya jadi kayak Aa Gym gini ya? Betul tidak?)

Yang keempat. Banyak doa. Dan yang kelima, lebih giatlah lagi berlatih menciptakan cerpen yang berdiksi manis dan renyah (Seperti krupuk pisang!). Banyaklah membaca tulisan-tulisan pemenang lomba. Pelajari penggunaan kata-kata dan idenya. Saya yakin kalo ente-ente, para pembaca yang budiman menerapkan cara yang demikian, maka anda akan merasakan perubahan dalam waktu satu minggu saja. Ya’, satu minggu saja! Hahaha, Hebat bukan? Maka cobalah, dan rasakan manfaatnya. Pesan sekarang juga! Buruan, jangan sampai kehabisan! Datangi departement store terdekat di kota anda. Hanya….sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah! (Loh, kok jadi kayak iklan pelangsing tubuh di tipi-tipi?)

Udah ah, jadi ngawur! Intinya, banyak latihan, itu aja! Sudah dulu ya, bentar-bentar, kalo punya masalah menulis lagi, kita diskusikan bersama dalam komentar di bawah ini. Oce!

Subhanallah wabihamdihi subhanakallahumma wabihamdika asyhaduanlaa ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaihi….

Wassalamu alaikum wr wb.

-

Lalu berkatalah malam pada lelaki

yang menelan sunyi sepanjang malam itu:
kugelapkan diriku setelah kutahu,

bulan pergi jauh meninggalkanku…

Ah, bulan, bukankah kau juga akan bicara
dengan dirimu sendiri bahwa gelap menurutmu
adalah sembilu yang kau tebarkan di tiap gagang rindu
yang ia lepas sementara waktu, tapi ia cari setelah segalanya luruh
Sudahlah, tak usahlah kau hiraukan gelapku yang bernama malam itu
sengatan mimpi pada ujung malam telah cukup membuatku
menepis kecemasan yang telah ada namun terlambat
yang tak mungkin akan aku tinggalkan di mana-mana
seperti juga engkau membingkaikan bayangan
setelah cahaya itu telah lama kau padamkan

23 Januari 2010

Fenomena Lima Bulan ini

Aku heran pada diriku, atau tepatnya nasibku, atau lebih tepatnya takdirku, atau lebih tepatnya lagi qadarku atau yang paling tepat lagi suratanku atau yaaang puuaaaaling tepat lagi…mmm, eeeh?…..ah, lupakanlah!

Ya, aku heran. Sebenarnya dalam lima bulan ini, saya sedang mengalami sindrom Blenkocepalus menulitus (Penyakit Blenk tiba-tiba di kepala saat menulis), sebab selama lima bulan ini, saya hampir tidak pernah lagi menghasilkan karya setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari FLP. Hampir tidak ada aktifitas menulis yang berarti yang dapat saya lakukan selain menatap dan merenungi nasib cerpen-cerpenku yang lama, yang tak pernah dijamah oleh prestasi apapun. Melihat tumpukan tulisan yang seperti tumpukan cucian di belakang pintu kamarku yang berjamur, membuatku sedikit ilfil dan frustesyen (baca:frustasi) mengingat suramnya masa depan tulisan-tulisan itu. Akhirnya aku bertekad di tengah sindrom Blenkocepalus menulitus yang menimpaku, untuk mengikutkan tulisan-tulisanku pada beberapa ajang lomba dan sayembara penulisan. Dan kau tahu apa yang terjadi, kawan? Cling!!! berkat rahmat Allah SWT Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan berkebangsaan yang bebas, maka dengan ini menyatakan, satu persatu hasil karyaku menampakkan hasilnya!

Mulai dari naskah dramaku yang merupakan naskah drama pertama yang pernah ku buat sejak aku hadir di muka bumi, Setapak Jejak di Ranah Mangrove, berhasil menyabet juara 1 lomba karya sastra bidang drama Unhas. langsung saja aku cengar cengir dan kesengsem ria, sebab hadiahnya cing, lumayanlah buat beli terang bulan istimewa dua minggu berturut-turut. Cuma aku merasa bersalah kepada Mr. Iton dan Mr. Arsyam yang kujanjikan makan di Warung Pak Dani, tapi nyatanya hanya kutraktir di JasMip (sory men!!).

dibalik kerianganku, aku juga heran tiada tara, sebab sebelumnya tak pernah sedikitpun aku pernah menulis naskah drama. Eh, sekalinya buat pertama kali, bisa-bisanya meraih juara pertama, padahal kubuat asal-asalan, dan tanpa firasat bisa menang. Kan lucu! Allah benar-benar Maha Kuasa!

Sebulan kemudian, atau bulan Agustus 09, cerpenku termuat lagi di koran Fajar yang berjudul Penumpang. Padahal cerpen itu aku buat saat kelas dua SMA. Tidak sia-sia aku menyimpanmu, Pen. (Panggilan akrab bagi cerpenku)

Dua bulan kemudian,di suatu malam di akhir Oktober, sebuah sms masuk. Sms itu mengaku-ngaku dirinya sebagai panitia ROHTO. Sms itu mengucapkan selamat. Penasaran, langsung saja besok paginya meluncur ke warnet liat pengumumannya. Eh, benar, namaku tercantum di dalamnya sebagai pemenang lomba menari salsa, gak lah. Maksudnya pemenang harapan utama Lomba Menulis Cerpen Remaja Tingkat Nasional tahun 2009 dengan judul, Bakulele. (“judul yang aneh!!!”! Kata sebagian orang )

Sebenarnya cerpen itu adalah cerpen yang saya ikutkan bareng drama asal-asalan itu dalam lomba karya sastra Unhas bidang cerpen, cuman tidak menang. Justru yang menang adalah drama yang tak pernah saya harapkan kehadirannya itu. Padahal saya sangat berharap cerpen inilah yang menang pada lomba karya sastra bidang cerpen unhas. Tapi ada hikmahnya juga, dua-duanya bisa eksis dalam dua ajang yang berbeda.

Sebulan kemudian, sebuah cerpenku yang kubuat saat SMA, berjudul Perjalanan Kembali, kembali termuat di Fajar. Cerpen ini termuat bertepatan dengan miladku. Ya, itung-itung hadiah milad dari Allah SWT.

Dan terakhir, dua bulan setelahnya. Saya memberanikan diri ikut lomba cerpen tingkat mahasiswa se Indonesia oleh STAIN Purwokerto. Seleksi per seleksi, diantara tumpukan tulisanku, kupilihlah sebuah cerpen bangkotan yang duluuu, dua tahun yang lalu, sempat dibedah pada diskusi FLP wilayah yang masih dibawah pimpinan mas Gege (ceilee, pake mas! Undang saya pas walimahnya ya, kak.).

Saat tiba masanya, setelah melihat pengumuman, ternyata cerpenku yang berjudul Dua Rindu di Kakilangit itu hanya keluar sebagai nominator diantara 27 nominator yang terpilih. Tapi tak apa-apalah, yang penting cerpenku bisa terangkum dalam buku antologi yang diterbitkan Stainpress itu. Setidaknya, sampai saat ini, cerpen-cerpenku sudah masuk ke dalam 3 buah antologi bersama. Satu buku indie FLP Unhas, dua lainnya buku antologi tingkat nasional. Ya, itung-itung tambah koleksi dan bisa jadi kenangan untuk diperlihatkan sama anak-anak, cucu-cucu, cicit-cicit dan cucut-cucut kelak (iya, kalo masih idup, kalo keburu isdet???).

Dari kejadian itu akhirnya saya belajar banyak hal. Pertama, Jangan pernah sekali-kali atau sedikitpun bahkan secuilpun menyepelekan tulisan-tulisan kita yang lama. Buktinya, tuh. Lima bulan tidak pernah lagi menulis, tapi nyatanya justru lima bulan itulah banyak hal yang dibuat dari hasil karya saya yang lama, yang telah berjamur saking lamanya di dalam komputerku yang rese’.

kedua, Jangan membuang, menelantarkan, mengabaikan, menistakan, menghinakan, menjerumuskan, menganiaya atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga kepada tulisan-tulisan lama kita. Sayangilah mereka, cintailah mereka. Dan edit-editlah kekurangan mereka. Niscaya mereka akan menyayangi kalian. (massu’na???)

Ketiga, simpan tulisan itu sambil menunggu peluang –peluang berikutnya, baik peluang lomba ataupun mengirimkannya ke media massa, bahkan kalo memungkinkan, bisa juga mengirimkannya ke media elektronik (tapi gak bakalan dimuat!!).

(Sebenarnya, tiga poin diatas maksudnya sama, Cuma kalimatnya yang sengaja dibuat berbeda, agar kesannya lebih profesional, gitcu!)

Akhirnya, terlampau besar rasanya harapan saya kepada teman-teman yang kukenal memiliki minat dan bakat menulis yang luar biasa, untuk terus berjuang dan pantang menyerah mempublikasikan karyanya. Rasanya sudah begitu banyak teori yang kita didapatkan, tinggal praktiknya saja, cing!

Mengutip kata Si Cecep, “kata emmakk, Yang namenye penulis ntuh, harus kudu’ nyebarin tulisannye’ ke medie atau lombe-lombe. soalnye, kalo cuman dinikmatin ndiri, atau cuman pengen full-fullin folder di komputer, atau karena malu tulisannye diliat orang, itu mah, ape bedanye kite ame burung dalam sangkar.” (ih, perumpamaannya gak nyambung banget).

Selain itu nih, masih kata emmakk, dengan publikasi tanpa nyerah, sedikit banyak kita bisa membuktikan kalo kita bisa nulis dan bisa unjuk gigi dan gusi dalam berkarya. Betul gak kawan? (meneketehe!)

Nah, tunggu apaan lagi, teruslah menulis tapi jangan pernah menyerah mengirimkan tulisannya. Seperti syair sebuah lagu, “Jangan menyeraaah, jangan menyeraaah, jangan menyeraaah aah aah aah haaaahh…..”

Sekian dulu deh tulisan garing ini. Tulisan ini semata-mata hanya untuk memotivasi teman-temanku saja dan juga sebagai hiburan semata. Kritik dan saran, dapat dilayangkan dibawah ini, tentunya dengan disertai biodata dan alamat lengkap anda, juga sebungkus Terang Bulan istimewa. Kalo gak ada, Brownies mo!

Subhanakallohumma wabihamdika asyhaduanlaa ilaa haaillah Anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaihi…wasslamu alkum wr wb….

Bang Miun in the kost.

22 Januari 2010

Hari-Hari Perjalanan

Setiap hari aku berjalan, dan mendapati diriku tertunduk, tergenang, menatap kosong. Melintasi pekuburan di samping Politeknik UP, menyaksikan nisan-nisan bertuan terbaring, mempertanggung jawabkan atas kehidupan yang baru saja dilaluinya dengan singkat.

Setiap kali aku berjalan, menuju kampus, berkutat dengan segala macam teori. Segala macam hasil penelitian, segala macam tugas-tugas dan laporan laboratorium. Kepenatanku kemudian bertambah beberapa kali lipat saat berhadapan dengan asisten yang sok hebat dan merasa cerdas, padahal tak lebih dari kecongkakan kecil yang tak tahu malu, memperlihatkan keeksistensian diri melalui jalan-jalan emosional. Dan tahukah kau apa yang setelah itu mereka katakan, ”Ini hanya salah satu permainan dan ujian mental agar kau, adik-adikku, mengerti bahwa hidup ini tak semudah yang dibayangkan!” ironisnya, tidak semua praktikan memahami apa yang mereka katakan. Selebihnya hanya menganggap mereka adalah sebuah robot yang akan segera diacuhkan ketika telah dimanfaatkan.

Setiap kali aku berjalan, berhadapan dengan slide mata kuliah dosen. Menapaki samudera ilmu dan memasuki dunia asing yang mau tak mau harus diselami.

Senin, aku memergoki diriku menggigil kedinginan dalam ruangan sesak dan ber-ac dua. Duduk di barisan kursi belakang, termangu menatap ocehan dosen Sistem Informasi. Kemudian beranjak tertatih mengikuti mata kuliah Manajemen sumberdaya perairan.

Selasa, aku terkapar tak bertenaga di kamar, berkutat dengan tulisan-tulisan hampa yang aku sendiri tak tahu untuk apa ia tertulis. Apakah hanya sekedar kegemaran, eksistensi diri atau sekedar pembunuhan waktu, menyelesaikan cerita-cerita fantasi yang terpotong di tengahnya. Akankah kegiatan itu diperhitungkan sebagai amal atau hanya sebuah bentuk kesiasiaan yang menipu.

Rabu, memasuki setapak jalan kampus, tersudut dengan tubuh penuh kantuk, pada pagi yang menyelinap menjadi kepenatan, sebab beberapa menit lagi memasuki laboratorium.

Kamis dan Jum’at, seperti apa adanya, tak ada yang kulakukan. Hanya menjalani rutinitas yang semakin lama semakin membuatku bingung tentang tujuan kita diciptakan di muka bumi ini. Apakah untuk kesibukan duniawi yang aneh dan membingungkan ini ataukah tugas abadi sebagai pengabdi kita kepada Sang Khalik? Sedang, setiap hari selalu saja kusaksikan manusia-manusia yang pontang-panting mengejar dunia bahkan rela mati karenanya, di duniaku yang sempit mungil  dan sementara ini.

Lalu sabtu dan ahad, aku terbaring malas, melampiaskan kenyamanan yang terbelenggu lima hari lalu. Atau berkutat pada tulisan yang tak menemukan titik akhir. Sementara, pakaian bertumpuk ingin segera dicuci.

Masalahnya, akankah hari-hari akan terus seperti ini?

Makassar, Semester lima

Masa Yang Tak Suram

Apa yang ku pikirkan. Kamar 4 x 4 ini, terasa sangat luas. Lampu yang tak remang, dan komputer yang termangu sebab kita yang saling bersitatap dan bermenung, saling memandang dan berspekulasi dengan pikiran sendiri-sendiri, mencoba menerjemahkan aura dan pikiran lawan tatapnya. Atau dengan jam yang bertiktak-tiktak, berdetak tak bosan, hanya untuk mengungkapkan, ”Hai pemuda perantauan, apa yang telah kau torehkan dalam relief kehidupanmu selama ini, sedang waktu semakin berlalu saja. Dan kau terperangkap pada imajinasi dalam kamar, bagai seekor katak sombong yang tak tahu dunia luar. Atau bagai kura-kura kecil yang merasa telah banyak melangkah dan terlampau jauh berpijak, namun garis dan jejak itu hanya berkutat pada sekeliling yang teramat dekat!”

Aku terpekur dalam-dalam menyaksikan realitasku. Masa depan bagaikan episode suram yang tak pernah diam, menggambarkan letak kenisbian yang tak dapat tertebak. Masa depan adalah sisi lain dari misteri kehidupan yang jarang diangkat dalam diskusi-diskusi dan pembicaraan sekelompok orang. Semestinya masa depan adalah perenungan, membuat kita tak gentar dalam melangkah saat ini. Namun di sisi lain, masa depan juga membuat kita berfikir panjang unutk melangkah dengan diiringi ketakutan fanatik. Seakan tak percaya takdir, seakan tak meyakini ada kekuatan maha dahsyat yang mengatur jejak-jejak kehidupan menjadi lebih bermakna penuh hikmah.

Hah, ternyata kecemasanku terlalu berlebihan….

Pada malam yang disaksikan para malaikat, 10 April 2009

22.22

Peristiwa Sore

Seusai malam akan ada siang. Kilat takkan selamanya berguruh. Terkadang sebagai pertanda datangnya hujan. Terik tak selamanya menyiangi, selalu saja ada celah rintik hujan menyiram.

Waktu yang dia lalui dengan tenang, tak ada kebisingan. Dia berpesta pora dengan kesunyian. Merambah masuk di setiap ketergenangan. Berhibernasi di dalam lubuk hati, menghindari kenyataan. Dia yang telah kalah, atau setidaknya menyerah. Seperti tak selamanya keinginan sesuai dengan kenyataan. Menyerah dan terpaksa mengalah. Demi sebuah arti yang tak cukup luas untuk di ungkapkan. Biarkanlah dia yang mengerti semuanya. Kita hanya bisa memastikan, bahwa apakah dia akan tetap hidup hingga esok pagi, sedang hatinya baru saja diambil dan diremukkan oleh seseorang yang berjilbab hitam sore tadi.

Kepada Mr. Pitoeng

Don’t be sad, Friend!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.